+62 22 30023600 [email protected]

Pandemi COVID-19 telah memberikan dampak yang sangat besar, baik bagi kesehatan, bisnis hingga perekonomian global maupun nasional. Per tanggal 19 Juni 2020, telah tercatat sebanyak 43.803 masyarakat Indonesia dinyatakan positif korona dan 17.349 masyarakat dinyatakan telah sembuh. Meskipun tingkat kesembuhan sudah meningkat pesat, tren perkembangan kasus positif korona belum menunjukkan adanya penurunan meskipun sudah ada penegasan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) oleh Pemerintah yang dimulai sejak bulan April lalu. Dari tim Workspez, kami mau membagikan beberapa cara untuk mempertahankan bisnis ditengah pandemi.

Perekonomian Indonesia Untuk Mempertahankan Bisnis Ditengah Pandemi

Dampak COVID-19 pada perekonomian Indonesia jelas terlihat melalui jatuhnya IHSG dan rupah. Dengan krisis yang mempengaruhi ekonomi serta bisnis nasional dan global, kunci keberhasilan yang harus dipegang adalah melaksanakan tindakan langsung yang berdampak untuk jangka panjang. Pandemi yang telah muncul sejak Februari 2020 memberikan sinyal pada bisnis untuk merangkul paradigma baru, dimana ada sebuah keharusan untuk menjaga keseimbangan yang baik dalam mengejar tujuan pelayanan public, lingkungan, dan komersial.

Dengan adanya kebijakan PSBB yang diberlakukan sejak April 2020, mayoritas perusahaan diharuskan untuk beroperasi pada tingkat operasi yang sangat minimum. Keadaan ini memaksa perusahaan untuk tetap melaksanakan operasi bisnis dengan gesit dan memprioritaskan investasi, sambil tetap fokus pada keamanan para pekerja mereka. Tidak sedikit bisnis yang akhirnya runtuh karena tidak bisa untuk beradaptasi dengan cepat pada masa pandemic ini, namun tidak menutup kemungkinan bagi bisnis untuk melanjutkan operasional dengan peluang yang ada.

Peluang Untuk Bangkit

Masa krisis mengajarkan bisnis bahwa tidak ada gunanya untuk fokus pada menciptakan kekayaan melalui bisnis, saat krisis kesehatan, lingkungan, dan sosial dapat dengan mudah mendorong bisnis untuk jatuh dalam hitungan minggu, seperti apa yang seringkali kita saksikan selama masa pandemi. Dari fenomena ini, Jeremy Limman – CEO dari Paper.id – mengatakan bahwa pandemic COVID-19 tidak hanya akan berdampak pada masyarakat dan kaum kesehatan, namun juga bisnis dari berbagai sektor, baik bisnis besar maupun kecil.

Dea Surjadi selaku Head of Indonesia dari Golden Gate mengatakan bahwa meskipun krisis ini belum menunjukkan tanda-tanda berakhir, bisnis tetap bisa mencari kesempatan melalui beradaptasi dengan new normal. Pandemi serta pemberlakuan work from home telah menimbulkan kebiasaan dan pola konsumsi yang baru bagi masyarakat, sehingga bisnis pun harus menjalankan adaptasi untuk tetap berjalan untuk mempertahankan bisnis di tengah pandemi dan setelah pandemi.

Tim Workspez juga melakukan program untuk kolektif marketing dan saling bantu antara sesama entrepreneur. Keterangan lebih lanjut bisa dilihat di webpage kami mengenai #riseupwithworkspez.

Respons Efektif Untuk Bisnis

Dalam analisis yang dilakukan oleh Fandy Tjiptono, perusahaan menanggapi pandemi COVID-19 dengan menyeimbangkan trilogy dalam tujuan PEC (public service, environment, dan commercial). Dari analisanya, sebagian besar perusahaan menggunakan keahlian masing-masing untuk mengejar ketiga nilai tersebut secara bersamaan dengan memanfaatkan apa yang mereka miliki untuk mengatasi COVID-19. Seperti membuat masker, APD, dan lain-lain yang menjadi kebutuhan negeri di masa pandemic ini. Meskipun hal tersebut merupakan hal yang baru dan bukan merupakan keunggulan bagi perusahaan terkait, namun respons yang diberikan ini cukup baik untuk mempertahankan bisnis di tengah pandemi.

Makko Group contohnya, sebagai perusahaan besar yang dikenal dalam industry otomotif Indonesia, kini turut memproduksi masker, baju APD (Alat Pelindung Diri), disinfektan, hingga hand sanitizer. Meskipun hal ini bukanlah hal yang sering dilakukan oleh Makko Group, namun perusahaan mengambil peluang yang ada untuk meningkatkan bisnisnya dengan mengejar trilogy nilai tadi. Melihat tenaga medis yang masih sangat kekurangan APD dalam menangani pasien corona, Christopher Sebastian – Presiden Direktur Makko Group – mengambil kesempatan ini untuk membantu masyarakat yang membutuhkan, yaitu dengan memproduksi baju APD serta masker untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri.

Tidak hanya perusahaan dalam negeri, perusahaan ternama seperti Prada, Armani, dan PT. Pan Brothers juga turut membantu memenuhi kebutuhan medis dengan memproduksi APD, hazmat, dan masker. Selain memenuhi kebutuhan dalam negeri, perusahaan tersebut juga siap membantu kebutuhan luar negeri dan akan mengirimkan hazmat dan masker ke Amerika Serikat, Australia, dan Eropa. Melihat adaptasi yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan ini, kondisi pandemic tidak menghentikan mereka untuk terus menghasilkan profit karena fokus utamanya bukan lagi hanya tertuju pada uang, namun juga mementingkan trilogy PEC yang juga sama penting.

Bangkit dengan Berbagi

Penerapan work from home yang telah berlangsung selama kurang lebih 3 bulan memaksa bisnis untuk lebih mengutilisasikan teknologi dalam proses bisnisnya. Berdasarkan pertumbuhan year-on-year, sumber pertumbuhan ekonomo Indonesia pada triwulan I 2020 terbesar adalah pada sector informasi dan komunikasi, yaitu sebesar 0.53%. Hal ini merupakan bukti bahwa new normal dari pandemic menyebabkan masyarakat mengakses pekerjaan, hiburan, dan Pendidikan melalui teknologi informasi. Di tengah new normal ini, kesadaran akan teknologi untuk mempertahankan bisnis di tengah pandemi semakin tinggi.

GO-JEK, sebagai salah satu perusahaan start-up terdepan Indonesia yang bergerak dalam bidang teknologi informasi, menggelar pelatihan adaptasi bisnis di tengah pandemic. GO-JEK Xcelerate merupakan program yang dibentuk untuk mendukung akselerasi bisnis dari start-up lainnya di Indonesia, dan pada masa pandemic pun GO-JEK tidak berhenti berbagi ilmu dengan para pebisnis lainnya.

Dalam GO-JEK Xcelerate ke 4 ini, 11 startup Indonesia dilatih untuk lebih fokus pada model bisnis direct-to-consumer. Hal ini dipaparkan oleh Tarun Agarwal – Head of Groceries GO-JEK – bahwa situasi dinamis pandemic ini akan membuat penerapan direct-to-consumer karena pengguna kini bisa menghabiskan lebih banyak waktu berinteraksi secara online.

Tidak hanya diberikan pengetahuan biasa, namun GO-JEK juga memberikan tips untuk meminimalisir kegagalan start-up dalam pengembangan produk dan layanannya. Misalnya, peserta dari GO-JEK Xcelerate dilatih untuk menerapkan Teknik MVP (minimum viable point), menerapkan fitur full-fledged, pelatihan growth hacking, dan lain-lain.

Penerapan adaptasi yang dilakukan oleh GO-JEK memberi contoh untuk para pebisnis untuk tidak selalu berfokus pada keberhasilan diri sendiri dan menyelamatkan diri sendiri pada masa pandemic, namun membantu bisnis lain juga merupakan hal yang penting untuk dilakukan pada masa yang sulit. GO-JEK juga mengajarkan para pesertanya untuk tidak hanya fokus pada profit perusahaan, namun harus mencari tahu apa yang dibutuhkan oleh para konsumennya. Oleh karena itu, GO-JEK menekankan metode direct to consumer agar bisa membangun komunikasi melalui social media, dan perusahaan bisa mendengarkan apa yang dibutuhkan oleh para konsumennya. Berbagi sesama di kalangan sekitar kita merupakan faktor yang penting untuk mempertahankan bisnis di tengah pandemi.

Apa yang Bisa Kita Lakukan untuk Mempertahankan Bisnis Ditengah Pandemi?

Momen pandemic COVID-19 memberikan pebisnis sebuah peluang untuk berinovasi dengan skala besar, bahkan hingga menghancurkan kerangka bisnis yang telah ada. Perusahaan dipaksa untuk memiliki cara berpikir dan praktik bisnis baru yang penuh ketidakpastian sebagai praktik “bisnis seperti biasanya”. Misalnya saja, perubahan perilaku konser musik di Indonesia yang pada masa pandemi dilakukan secara virtual untuk mendukung self-distancing. Global Citizen sempat menggalang dana untuk mengadakan virtual music concert bertajuk One World: Together at Home yang menampilkan musisi top dunia, dari Rolling Stones hingga Billie Eilish.

Tidak hanya dunia music, namun juga berlaku untuk dunia olahraga. Pandemi ini rupanya menghalangi beberapa sektor olahraga untuk berjalan, seperti gym, olimpiade, hingga balapan Formula 1. Maka, alternatif yang diambil adalah dengan aplikasi yang menyediakan pilihan kelas dan sesi olahraga dengan fitur video virtual, sehingga masyarakat bisa olahraga Bersama dari rumah masing-masing.

Ketidakpastian yang menjadi dampak dari COVID-19 menyebabkan beberapa perusahaan untuk mengalami krisis dan mengharuskan perkembangan rencana manajemen. Apa yang dapat anda lakukan sekarang sebagai pebisnis untuk merespon pandemi?

Melindungi Pekerja

Pertama, dan yang terutama adalah perusahaan harus melindungi para pekerjanya. Perusahaan harus merespon dengan cepat akan penyediaan protocol yang dapat melindungi karyawannya karena karyawan adalah asset terpenting dalam sebuah perusahaan. Ini adalah salah satu cara yang paling effektif dalam mempertahankan bisnis ditengah pandemi.

Beberapa perusahaan besar, seperti Airasia. Demi melindungi pekerjanya, mereka memotong gaji karyawan dari level bawah ke paling atas untuk memastikan tidak ada karyawan yang di PHK.

Membentuk Tim Cross-Functional Response

Bisnis harus membentuk tim khusus yang didedikasikan untuk memastikan seluruh proses bisnis berjalan dengan maksimal dengan tetap menjaga kesehatan dan keselamatan rekan kerja maupun pelanggannya. Fokus tim harus dipecah menjadi 4 alur yang berbeda:

  • Manajemen & Kesejahteraan
  • Uji stress finasial & perencanaan darurat
  • Monitor manajemen supply chain
  • Marketing & Sales

Memastikan likuiditas perusahaan dan membuat rencana darurat

Identifikasilah variable pemicu yang akan mempengaruhi pendapatan maupun biaya, dan selanjutnya terapkan pada scenario keuangan perusahaan sehingga neraca dapat terlihat. Rencana darurat dapat disusun untuk berbagai hasil, seperti optimasi portfolio melalui divestasi, pengurangan biaya, dan lain-lain. Teknik ini sangat bergantung kepada tingginya kemampuan akuntan atau CFO untuk mengelola keuangan atau cashflow management.

Menstabilisasi supply chain.

Alihkan perhatian bisnis kepada kapasitas pre-booking. Untuk stabilisasi jangka panjang, bisnis harus merencanakan permintaan konsumen secara lebih menyeluruh dan membuat supply chain menjadi lebih Tangguh.

Tetap dekat dengan customer.

Dalam masa krisis, penting bagi bisnis untuk membuat pelanggan tetap terlibat dan dekat, misalnya dengan memberikan penawaran khusus dan diskon. Untuk jangka Panjang, perusahaan harus menilai dan menargetkan segmen pasar lain untuk peluang pertumbuhan.

Semoga artikel ini bisa membantu usaha anda di tengah pandemi. Dari tim kami juga ada penarawan tentang #paketRebound yang tujuannya untuk membantu bisnis anda di area perencanaan keuangan (cashflow planning).

Paket Rebound

Ayo ikutin juga webinar kita tanggal 30 juni 2020 tentang PSBB = Pajak nyuSAHIN Bayarnya Bagaimana.

Valencia Suteja
Valencia Suteja

Valencia adalah salah satu tim content writer kami di Workspez. Selain memposting blog, dia juga author untuk sosial media Workspez Indonesia.

Daftar ke Newsletter kami.

Daftar ke Newsletter kami.

Ayo join ke newsletter kami untuk mengetahui update

You have Successfully Subscribed!

Share This
X